Politik Meja Makan Ala Jokowi

Pernahkah kamu mendengar istilah culinary diplomacy? Ya itu adalah istilah yang dikenal dalam dunia politik, dan presiden Jokowi adalah salah satu orang yang sukses dengan baik menggunakan teori culinary diplomacy. Kerap kali Jokowi mengundang pucuk pimpinan organisasi atau ormas tertentu ke meja makan untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Berbagai rundingan di selesaikan di atas meja makan. Pertanyaanya, seberapa efektifkan persoalan diselesaikan di atas meja makan?

Kita tentu masih mengingat bagaimana Obama menjamu presiden Rusia Medvedev saat bernegosiasi mengenai nuklir, keduanya bernegosiasi sambil menyantap Burger. Teknik semacam ini juga dianut oleh Jokowi, setiap kali ada demonstrasi, presiden kerap kali mengundang pucuk pimpinan masuk ke istana sambil menjamu mereka dengan berbagai makanan. Para chef yang menyediakan makanan juga telah pandai menyiapkan makanan, bisa memanfaatkan segalan bahan yang ada, berbagai resep termasuk resep lemon tea juga ada dan dibuat ke dalam makanan dan minuman. Keluar dari ruang makan di istana, semua persoalan seolah beres.

Politik di Atas Meja Makan

Kata Virginia Woolf “seseorang tak akan pernah bisa berpikir jernih, atau mencintai dengan penuh ketulusan, maupun tidur dengan nyenyak, jika perutnya masih kosong.” Dan memang benar, ada banyak sekali kajian yang membuktikanya. Lewat makanan, pesan politik bisa tersampaikan. Maka di dalam potilik, ada istilah namanya culinary diplomacy atau jika diterjamahkan bebas berarti diplomasi kuliner. diplomasi kuliner itu sendiri adalah cabang dari diplomasi yang mengkaji persoalan bagaimana makanan bisa menjadi alat yang efektif untuk membangun hubungan dengan seseorang, termasuk juga membangun hubungan antara negara. Demi untuk melakukan kerja sama. Bahkan diplomasi kuliner juga efektif menjadi alat untuk mencapai perdamaian.

Dalam teori yang disampaikan oleh Sam Chapple-Sokol, yang pernah bekerja sebagai chef pastry di Gedung Putih yang sekaligus juga seorang pendiri situs Culinary Diplomacy. Ia menjelaskan bahwa diplomasi kuliner ada tiga jenisnya. Pertama, Track I Culinary Diplomacy, yang kerap diartikan sebagai jamuan makan antarpemerintah. Ini biasa dilakukan antara badan legislasi dengan badan eksekutif, atau bahkan antar lembaga eksekutif. Atau bisa juga dilakukan dengan negara lain.

Kedua ada Gastrodiplomacy, sebuah diplomasi kuliner yang melibatkan lembaga untuk kepentingan luar negeri. tujuan dari Gastrodiplomacy biasanya adalah untuk membangun kekuatan sebuah negara dengan cara yang lunak, bisa juga untuk promosi pariwisata yang melibatkan negara lain, mendorong pertukaran budaya dan lain sebagainya. pokoknya, tujuanya adalah untuk kepentingan luar negeri.

Berikutnya ada nama Citizen Culinary Diplomacy. Inilah yang kerap disebut sebagai jamuan pemerintah kepada warga negaranya. Tujuannya ada banyak. tapi biasanya adalah untuk memecahkan persoalan ditingkat pemerintahan terendah seperti kelurahan hingga ke nasional. selain itu biasanya juga sangat efektif untuk membangun hubungan pemerintah dengan yang diperintah. Termasuk bisa juga untuk mendengarkan aspirasi masyarakat.

Selain Jokowi, pemerintah dunia yang terkenal ahli sekali dalam menjalankan diplomasi kuliner adalah Barack Obama. Bahkan ia kerap menjamu pemerintah luar negeri dengan burger. Ia tampak kasual dan luwes dalam memanjakan para tamunya dengan makanan. Obama sepertinya lebih suka menyelesaikan segala persoalan di meja makan.  

Jokowi bisa menjalankan politik meja makan dengan sangat baik. Ia sudah menjalankan cara tersebut sejak masih menjadi walikota solo. Tentu kita masih ingat saat Jokowi menjamu ratusan pedagang kaki lima di area Monumen 45 Banjarsari. Jamuan bahkan dilakukan hingga 54 kali. Baru setelah jamuan selesai, jokowi mengungkapkan maksudnya: Merelokasi pedagang ke lokasi yang baru.

Dialog terjadi selama jamuan berlangsung, apa yang diinginkan pemerintah dan apa yang diinginkan para pedagang kaki lima diselesaikan di meja makan. meski alot, cara ini efektif, bahkan tanpa kekerasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *